Articles

Ngutang ke Pinjol Ilegal, Rumah Melayang?

Segala sesuatu yang berbasis online kini cenderung lebih diminati oleh masyarakat. Karena dinilai lebih praktis dan efisien dari segi waktu dan biaya. Belanja online, belajar online, transportasi online, beli makan online hingga pinjaman pun kini sudah berbasis online.

Yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan adalah pinjaman online (pinjol). Pasti kamu sudah tidak asing lagi kan dengan istilah itu?

Apakah kamu tahu kalau pinjol atau yang dikenal sebagai Fintech Peer to Peer (p2p) Lending tidak semua legal di bawah pengawasan OJK. Banyak juga pinjol yang illegal. Ini yang sering kali menjebak nasabah dengan bunga mencekik dan cara penagihan yang kadang tidak manusiawi.

Hal ini dialami oleh Tian. Beberapa waktu yang lalu Tian menerima tawaran pinjaman “Dapatkan dana cepat 20-50 juta, untuk memenuhi kebutuhan Anda. Hanya perlu ktp. Finance resmi.” Seperti gayung bersambut, saat itu Tian memang sedang ingin membeli ponsel terbaru seharga 20 juta.

Akhirnya Tian mengambil pinjaman sebesar 20 juta dengan tenor 60 hari. Sayangnya Tian lalai dalam membayar pinjamannya sehingga menunggak dan tidak menyadari bahwa ia meminjam di pinjol ilegal. Sampai ada debt collector yang menyambangi rumahnya dengan membawa tagihan sebesar 80 juta. Nilai tersebut adalah total pinjaman, bunga, pinalti keterlambatan dan perpanjangan tenor.

Karena tidak bisa segera membayar, debt collector tersebut membuat keributan di lingkungan rumahnya. Sampai mulai mengancam anggota keluarganya. Akhirnya dengan terpaksa, Tian menggadaikan rumahnya untuk membayar pinjaman tersebut. Sekarang Tian harus berpikir 7 keliling bagaimana menebus kembali rumahnya.

Menurut OJK, berikut adalah perbedaan Fintech Lending Legal dan Ilegal:
Fintech Lending Ilegal:

1. Tidak memiliki izin resmi

2. Tidak ada identitas pengurus dan alamat kantor yang jelas

3. Pemberian pinjaman sangat mudah

4. Informasi bunga/biaya pinjaman dan denda tidak jelas

5. Bunga/biaya pinjaman tidak terbatas

6. Total pengembalian (termasuk denda) tidak terbatas

7. Penagihan tidak ada batas waktu

8. Akses ke seluruh data yang ada di ponsel

9. Ancaman teror kekerasan, pencemaran nama baik, menyebarkan foto/video pribadi

10. Tidak ada layanan pelanggan.

Sedangkan ciri Fintech Lending Legal adalah sbb:

1. Terdaftar dan diawasi OJK

2. Identitas pengurus dan alamat kantor jelas

3. Pemberian pinjaman diseleksi ketat

4. Informasi biaya pinjaman dan denda transparan

5. Total biaya pinjaman 0,05% s.d 0,8% per hari

6. Maksimum pengembalian (termasuk denda) 100% dari pinjaman pokok

7. Penagihan maksimum 90 hari

8. Akses hanya camera, microphone dan location

9. Risiko peminjam yang tidak melunasi setelah batas waktu 90 hari akan masuk ke daftar hitam (blacklist) Pusdafil

Nah dari kasus yang dialami oleh Tian ini bisa kamu jadikan pelajaran ya Sob. Jangan hanya karena keinginan sesaat membuat kamu memiliki hutang yang merugikan, apalagi kalau sampai harus mengorbankan sesuatu yang sudah kamu miliki.

Oiya kamu juga harus waspada saat kamu ingin memutuskan untuk mencari dana talangan dari lembaga finansial, pastikan lembaga tersebut resmi dan terdaftar di OJK. Selain itu baca dengan jelas kewajiban kamu sebagai nasabah. Jangan sampai kamu terjebak pinjol ya Sob! 😉

Articles - Menu

Yuk ikutan mailing list KPR Academy

Thank you! Your submission has been received!

Oops! Something went wrong while submitting the form